Dua bendera kecil bergerak ke berbagai arah di tangan anggota Pramuka Siaga SD Negeri 1 Keniten, Kecamatan Kedungbanteng, Jumat (28/8/2026). Di balik gerakan tersebut, tersimpan pesan yang harus diterjemahkan dengan tepat. Melalui latihan semaphore, anggota Pramuka tidak hanya belajar menghafalkan kode, tetapi juga berlatih berkonsentrasi, mengamati gerakan, dan bekerja sama dengan teman satu barung.
Kegiatan diawali dengan upacara pembukaan. Setelah itu, peserta dibagi ke dalam beberapa barung sebelum mendapatkan materi semaphore dari pembina.
Pembina memperkenalkan semaphore sebagai salah satu keterampilan komunikasi menggunakan dua bendera dengan posisi tertentu untuk mewakili huruf. Peserta kemudian diajak mencoba gerakan secara bertahap sebelum melakukan praktik bersama teman.
Suasana latihan semakin menarik ketika peserta mulai saling mengirimkan kode. Satu anggota bertugas mengirim pesan melalui kibaran bendera, sementara anggota lainnya mengamati dan menerjemahkan kode yang diterima.
Tidak semua gerakan langsung tepat. Beberapa peserta harus mengulang posisi bendera dan memperbaiki gerakan agar pesan dapat diterima dengan benar. Namun, suasana latihan tetap berlangsung penuh semangat. Antaranggota barung saling membantu dan memberikan semangat kepada teman yang masih mengalami kesulitan.
Kamabigus SD Negeri 1 Keniten, Kak Susi Lestari, mengatakan bahwa semaphore menjadi salah satu cara menyenangkan untuk melatih karakter peserta didik.
“Melalui semaphore, anak-anak belajar disiplin, berani, mandiri, dan mampu bekerja sama. Untuk menyampaikan pesan dengan benar, mereka harus teliti, konsentrasi, dan kompak,” ujar Kak Susi.
Menurutnya, keterampilan semaphore juga mengajarkan peserta bahwa komunikasi membutuhkan ketepatan. Kesalahan kecil dalam posisi bendera dapat membuat pesan berbeda atau sulit dipahami.
Hal senada disampaikan Pembina Siaga, Kak Ana Meida Kurniastuti. Ia mengajak peserta untuk tidak takut melakukan kesalahan selama proses latihan.
“Anak-anak tidak harus langsung sempurna. Yang penting mereka mau mencoba, berani salah, kemudian memperbaikinya. Dari semaphore, mereka belajar fokus, sabar, percaya diri, dan menghargai teman,” ungkap Kak Ana.
Antusiasme peserta terlihat ketika mereka bergantian memegang bendera dan mencoba mengirimkan berbagai kode. Mereka juga belajar memperhatikan gerakan teman dengan cermat sebelum menyampaikan jawaban.
Latihan tersebut sekaligus menjadi pengalaman bahwa komunikasi tidak selalu harus menggunakan suara. Melalui simbol dan gerakan, sebuah pesan dapat disampaikan asalkan pengirim dan penerima memahami kode yang digunakan. Bagi Pramuka SD Negeri 1 Keniten, latihan semaphore bukan sekadar belajar keterampilan kepramukaan. Setiap kibaran bendera menjadi latihan untuk membangun ketelitian, konsentrasi, kesabaran, kedisiplinan, dan kekompakan.
Kegiatan kemudian ditutup dengan upacara penutupan dan evaluasi. Pembina memberikan apresiasi kepada peserta yang telah mengikuti latihan dengan penuh semangat. (Mas Ranteng)
Pramuka Kedungbanteng Berani, Berkarya, Menginspirasi!